Free Widgets

Jumat, 03 Juni 2016

Master of videography

        Baru setengah tahun diriku memasuki sekolah yang terdapat di suatu kelurahan. Aneh rasanya berada disini, karena sekolah ini tak seperti sekolah yang dulu pernah aku sekolahi. Kau tau dimana? Rahasia! Cari sendiri. Yang jelas aturan di sini sangat-sangat ketat, sampai ada anak yang mencoba keluar dari sekolah ini. Setiap senin kami bukannya upacara, malah ulangan. Lucu? Sekolah kami hanya upacara jika ada hari penting. Nilai? adalah semua prioritas bagi segalanya.

           Jujur diriku sekarang merasa sedih, ya akan sesuatu, tidak usah dibahas, lihat saja di postingan sebelumnya.


           Sekarang akan kuceritakan suatu kisah yang cukup menarik.


           Pertama kali aku melihatnya saat pelajaran olahraga, hari sabtu. Hari sabtu adalah hari yang paling melelahkan, karena pramuka dan ditambah harus belajar karena besok ulangan. Melelahkah.
             
             Cukup sederhana, dia sedang bermain bola pingpong bersama temannya. Kulihat dirinya dari lapangan serbaguna. Walaupun sempit sekolah kami cukup unik. Bisa, all in one gitu (wkwk). Saat ku melihatnya, entah kenapa ada setruman seperti melihat dia cocok. Cocok untuk apa?
              
             Cocok untuk menggantikan impian yang tak terwujud. mungkin kau pikir ini cukup gila. Ya, mau tidak mau harus melupakan kenangan yang dulu.
             
           Sejak saat itu, aku penasaran dengan namanya. Sampai suatu saat temannya memanggil dengan sebutan namanya. Sayang sekali dia tidak sekelas denganku.

                  Layaknya kebiasaan perempuan yang selalu nge-stalk, mulailah diriku menge-stalk. Ternyata setelah kutelususri dia pernah satu SD denganku, tetapi mungkin dia tidak menyadarinya sampai sekarang. dia suka dengan visualisasi, tepatnya videografi. Dia menyebut dirinya "master". Cukup unik.

                         Namun aku merasa dia juga mirip dengan masa laluku, bedanya foto diganti dengan  video. Tak apalah, kurasa aku harus mencobanya.

                           Hari demi hari berlalu, sampai akhirnya ku follow IGnya. Cukup merasa senang bisa di follback, kemudian dia sering men like fotoku juga. Tetapi aku tidak kegeeran seperti dulu lagi. Mungkin kebiasannya men-like semua foto orang di IG. Cukup menyenangkan.

                          Hal yang cukup ganjil mulai merasuki diriku. Tidak banyak moment seperti dulu. Dulu, setiap keluar kelas, pasti ada suatu moment, besar ataupun kecil, tetapi sekarang tidak untuk yang baru ini. Mungkin karena sekolah ini memfokuskan nilai sebagai prioritas. Sekolah kami memang suka menggetjot muridnya untuk masa depan yang lebih baik. Aku mensyukurinya.

                     Suatu hari aku belum dijemput. Dengan setengah mengantuk dan suasana saat itu sepi, tiba-tiba aku melihat dirinya berjalan pulang di depanku bersama teman-temannya. Ada sesuatu yang sangat membuatku tak enak. Ada teman perempuannya yang sedang membenarkan tasnya. Mungkin itu hanya sebagai teman. Kita harus berpikiran positif. Jangan berlebihan atau kegeeran.



Sudahlah, sekian cerita singkat ini.


     
Untuk penutup,

Dear master,
Mungkin kau jarang mendengar namaku, atau hanya sekedar dar IG saja.
Tetapi, jika mungkin,
Semoga kita dapat mengenal di waktu selanjutnya.

:)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar