suatu pembicaraan.
Aku tak tahu pembicaraan ini bermula dari kapan dan asal mulanya dari mana. Mereka yang melakukan pembicaraan itu mungkin tidak menyadari, bahkan hanya menyepelekan, menertawakan. Seolah mereka menganggap sesuatu yang aneh.
ya,
Bagaimanakah rasanya, menjadi bahan pembicaraan, apalagi pembicaraan itu cenderung merendahkan orang lain?
Pasti kau muak, benci, ingin balas dendam, lapor guru atau yang lain (mungkin yang lebih ekstrim ada. Ada..)
Tapi abaikanlah saja orang-orang seperti itu dan jangan menyimpan dendam pada orang itu. Toh, tidak ada gunanya bagimu, itu justru akan memperpanjang dan merumitkan masalah. Jadikanlah pembicaraan mereka sebagai hal positif. Hal negatif akan selalu menghantui hidupmu. Pada dasarnya manusia mempunyai kekurangan dan kelebihan, tapi mereka cenderung meremehkan hal tersebut dan menjadikannya sebagai candaan (kekurangan). Aku bingung pada mereka, apakah tidak ada obrolan lain yang lebih bermutu, daripada merendahkan harkat dan martabat orang lain. Ingat hak asasi manusia dong!
Pembicaraan itu terdapat di dunia nyata maupun dunia maya. Ini perubahan sosial yang menggunakan sosial media sebagai sarana ghibah. Sebenarnya tidak baik sih, apalagi buat ghibah. Pasti orang yang dibicarakan tersebut akan sakit hati. Pakai sosial media ya buat hal-hal yang positif lah, kayak cari informasi atau berhubungan dengan individu lain gitu. Masa malah buat ghibah.. Asgtafirullah...
“Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain, sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (Q.S. Al Hujurat : 12)
Ayat ini mengandung larangan berbuat ghibah atau menggunjing.
Begitu pula seperti yang telah ditafsirkan pengertiannya oleh Rasulullah
Shallallahu'alaihi Wasallam., sebagaimana yang terdapat di dalam hadits yang
diriwayatkan oleh Abu Dawud bahwa Abu Hurairah r.a. berkata, “Wahai Rasulullah,
apakah yang dimaksud dengan ghibah itu?” Rasulullah menjawab, “Kamu
menceritakan perihal saudaramu yang tidak disukainya.” Ditanyakan lagi,
“Bagaimanakah bila keadaan saudaraku itu sesuai dengan yang aku katakan?” Rasulullah
menjawab, “Bila keadaan saudaramu itu sesuai dengan yang kamu katakan, maka
itulah ghibah terhadapnya. Bila tidak terdapat apa yang kamu katakan maka kamu
telah berdusta.
Seperti yang telah disebutkan pada surah Al-Hujurat ayat 12 bahwa berbuat ghibah merupakan perbutatan tercela, jadi sebaiknya kita menghindari perbuatan tersebut.
Seperti pula yang telah kutakatakan tadi, aku tidak menyimpan dendam pada orang yang melakukan pembicaraan tersebut, tapi saranku setidaknya jangan merendahkan orang lain dan menganggap orang itu sangat memiliki kekurangan. Semua manusia memiliki kekurangan dan kelebihan.
Sadarlah..
Aku tidak akan melupakan orang-orang yang melakukan pembicaraan ini. Mungkin ini dapat menjadi pembelajaran atau motivasi yang membangun. Aku mendoakan, semoga orang-orang tersebut sadar akan perbuatannya dan meminta maaf, secara ikhlas, bukan main-main.
Bagaimana? Apakah tulisan ini cenderung abstrak? Tidak jelas? Itu terserah anda, para pembaca.
Aku hanya ingin mengutarakan bagiamana rasanya menjadi bahan pembicaraan dan hanya memberi saran dan nasihat. Coba resapi tulisan yang ada di paragraf ini baik-baik...
Jangan hanya tertawa atau menyepelekan, sadari semua yang telah diperbuat.
Jadi, bagaimanakah rasanya?
Tertanda,
Pemilik Blog.

